Tanaman berbungan menarik ini ikut naik pamor ketika booming tanaman hias melanda di sebagian wilayah Indonesia, walau tak sespektakuler anthurium. Booming tanaman hias itu sendiri berlangsung sekitar tahun 2005 hingga 2007 lalu. Banyak orang berlomba-lomba demi tanaman hias. Pengusaha baru bermunculan. Ada yang berusaha sebagai pedagang, pekebun, importir/eksportir, bahkan sebagai perantara, di samping juga ada yang sebagai penghobi. Orang juga ramai-ramai memelihara tanaman hias. Tanaman jadi kesibukan baru. Berbagai pameran, kontes atau lomba digelar di berbagai tempat. Walaupun tidak ada lomba khusus untuk kelas eforbia, namun tanaman berduri ini memiliki tempat tersendiri di hati penggemarnya.

Tanaman hias itu konon berasal dari kawasan Afrika Bagian Selatan, tepatnya Madagaskar. Sesuai asalnya, tanaman ini akan berkembang dan berbunga sangat indah bila diletakkan di tempat terbuka yang langsung menerima terik Matahari. Terlebih lagi jika musim kemarau. Ketika tumbuhan lain mulai terganggu perkembangannya karena kekurangan air, tumbuhan ini justru semakin menampakkan bunga-bunga indah yang bermekaran. Warna bunganya bermacam-macam. Ada yang merah muda, merah muda dengan bercak-bercak putih, putih, merah menyala, merah hati, kuning, dsb. Di antara warna-warna itu; bunga eforbia yang berwarna merah hati, putih, dan kuning memiliki harga yang paling mahal. Eforbia yang berbunga warna-warna tersebut setinggi sekitar 30cm berharga sampai Rp 100.000,- Sedang warna-warna yang lain hanya seharga antara Rp 5.000,- sampai Rp 15.000,- Kini, setelah demam tanaman hias itu berlalu, orang hampir tak menghiraukannya lagi. Bahkan sebagian masyarakat di sekitar saya mengaku ramai-ramai memusnahkannya. Mengapa?

Hal itu terjadi lantaran ada isu bahwa tanaman eforbia adalah biang maraknya penderita penyakit baru yang disebut cikungunya. Menurut mereka, nyamuk penyebar penyakit cikungunya itu bersarang di tanaman eforbia tersebut. Maka dari itu tanaman eforbia harus dienyahkan. Informasi itu saya peroleh dari seorang tetangga yang kedatangan tamu. Begitu melihat tanaman eforbia, tamu tersebut berkomentar, “lho kembang eforbia kok masih dipelihara. Kalau di sekitar lingkungan saya tanaman itu sudah dibabat habis karena menjadi biangnya penyakit cikungunya”. Tetangga saya kemudian menjawab, “tanaman itu dulu dibeli dengan harga mahal, kok dibabat begitu saja”. Di lain kesempatan tetangga tersebut bertanya pada saya, “apa benar eforbia itu yang menyebabkan penyakit cikungunya?” “Wah, ya jelas tidak. Sumber perkembangbiakan nyamuk pembawa penyakit itu sebenarnya ya di tempat-tempat pembuangan air yang menggenang. Termasuk juga air yang terkumpul di kaleng-kaleng bekas atau wadah-wadah lainnya”. Saya mengamati bahwa kebiasaan orang-orang di sekitar saya kurang memperhatikan pengaliran air. Air yang telah dipakai dari kamar mandi dibuang begitu saja. Mereka tidak menghiraukan lagi. Kecenderungannya air menggenang tidak jauh dari kamar mandi mereka. Di tempat itulah sebenarnya tempat ideal perkembangbiakan nyamuk penyebar penyakit cikungunya.

Esok harinya, ketika bertemu dengan teman yang mengajar Biologi, saya ceritakan hal tersebut kepadanya. Teman saya tadi tersenyum ketika mendengar cerita saya. “Benar jawaban sampean itu”, komentar teman saya tadi. Kemudian dia menambahkan bahwa nyamuk penyebar penyakit cikungunya itu sekarang kebal terhadap air yang kotor sekalipun. “Artinya, nyamuk tersebut dapat berkembangbiak dengan baik walaupun berada di air comberan. Kalau dulu hanya mau hidup di air yang jernih saja”, jelasnya mengakhiri pembicaraan.

Incoming search terms: