Oleh:

NUR’AINI

07121031

 

 

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS ANDALAS

PADANG, 2010


 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan pada Bayi Baru Lahir dengan Resiko Tinggi (BBLR, SGN, Hiperbilirubinemia)”.

Adapun tujuan dibuat makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan pembaca mengenai asuhan keperawatan pada bayi baru lahir dengan resiko tinggi (BBLR, SGN, Hiperbilirubinemia). Penulis menyadari tanpa bantuan dari berbagai pihak tidak mungkin penulisan makalah ini akan berhasil dengan baik. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah ikut memberikan bantuan dan fasilitas dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya dosen pembimbing, orang tua, teman-teman dan pihak lain yang telah membantu.

Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna, baik dalam penulisan maupun penyajiannya. Hal ini mengingat segala keterbatasan ilmu pengetahuan dan kemampuan yang penulis miliki. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk kesempurnaan dan bahan masukan bagi penulis dalam penulisan makalah dimasa yang akan datang. Akhir kata, penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan khususnya bagi penulis sendiri.

 

 

 

 

Padang, Juni  2010

 

 

Penulis

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………         i

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………….….         ii

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………..         1

  1. LATAR BELAKANG…………………………………………………………………         1
  2. RUMUSAN MASALAH…………………………………………………….…….…         1
  3. TUJUAN………………………………………………………………………………         1

BAB II PEMBAHASAN……………………………………………………………………         2

  1. BAYI DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) …………………                       2
  2. SINDROMA GAWAT NAPAS …………………………………………………..                       22
  3. HIPERBILIRUBINEMIA ………………………………………………………..                        39

BAB III PENUTUP…………………………………………………………………………          47

  1. KESIMPULAN…………………………………….…………………………….…         47
  2. SARAN…………………………………………………………….……………….         47

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………….….……..        48

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  1. A. LATAR BELAKANG

Banyak masalah yang terdapat dalam keperawatan anak ini, salah satunya yang kita bahas dalam bab ini yaitu asuhan keperawatan pada bayi baru lahir dengan resiko tinggi. Pada bab ini, kami memfokuskan kepada masalah BBLR (Berat Badan Lahir Rendah), SGN (Sindrom Gawat Nafas), dan Hiperbilirubinemia. Solusi dalam hal ini adalah peningkatan kesehtan bayi baru lahir dan keluarga.Namun dalam menjalankannya seseorang harus mengetahui bayak hal seperti penyesuaian terhadap kehidupan , pengkajian klinis dan yang pasti asuhan keperawatan pada bayi baru lahir (pengkajian, perencanaan , intervensi, implementasi, dan evaluasi) .Dalam hal ini penulis dapat membantu pembaca untruyk mendapatkan informasi tersebut, sehingga pembaca dapat mengetahui tentang asuhan apa saja yang akan diberikan kepada bayi baru lahir yang beresiko tinggi.

 

  1. B. RUMUSAN MASALAH
  1. Bagaimana konsep dasar masing-masing penyakit?
  2. Apa saja tanda dan gejala yang sering terdapat pada bayi sesuai dengan penyakitnya?
  3. Apa saja masalah yang sering dialami pada anak sesuai dengan penyakit?
  4. Bagaimana perencanaan tindakan pada anak sesuai dengan masalah pada masing-masing penyakit?

 

  1. C. TUJUAN
  1. Tujuan Umum

Bias dan mampu melakukan Asuhan Keperawatan pada bayi baru lahir dengan resiko tinggi.

  1. Tujuan Khusus
  1. Mampu menjelaskan tentang konsep dasar masing-masing penyakit.
  2. Mampu mengkaji tanda dan gejala yang sering terdapat pada bayi sesuai dengan penyakitnya.
  3. Mampu menentukan masalah yang sering dialami pada anak sesuai dengan penyakit.
  4. Mampu menentukan perencanaan tindakan pada anak sesuai dengan masalah pada masing-masing penyakit.

 

 

 

 

 

 

 

BAYI DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR)

 

  1. I. KONSEP DASAR BBLR
    1. Pengertian

Bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) adalah seluruh bayi dengan berat badan saat lahir kurang dari 2500 gram

  1. Klasifikasi

BBLR dapat diklasifikasikan menjadi :

  • Prematuritas murni
  • Dismatur

Prematuritas Murni

  1. a. Definisi

Adalah bayi lahir dengan masa kehamilan < 37 minggu dan berat badan sesuai dengan masa gestasi tersebut atau disebut juga neonatus kurang bulan. Namun beberapa sumber ada yang mengatakan < 38 minggu ( Murray, Sharon SMH, 2002)

  1. b. Etiologi

Penyebab pasti belum diketahui, tetapi ada beberapa factor resiko yang berperan, yaitu :

  • Faktor ibu

-          Penyakit yang berhubungan dengan kehamilan seperti toxemia gravidarum, perdarahan antepartum, trauma fisis dan psikologis, netritis akut, DM, infeksi akut, penyakit maternal dan kelainan kardiovaskuler

-          Usia ibu, angka kejadian tinggi pada ibu dengan usia < 18 tahun atau >40 tahun dan pada multigravida yang mempunyai jarak kehamilan yang terlalu dekat.

-          Keadaan social ekonomi, hal ini berhubungan dengan keadaan gizi yang kurang baik dan pengawasan antenatal yang kurang

-          Kondisi ibu saat hamil, peningkatan berat badan ibu yang tidak adekuat, ibu yang merokok.

  • Faktor janin

Hidramnion/polihidramnion, kehamilan ganda, kelainan janin, gangguan dalam uterus, infeksi janin dan lain-lain.

  1. c. Manifestasi Klinis
  • Umumnya BB < 2500 gram, panjang badan < 45 cm, llingkar dada < 30 cm, lingkar kepala < 33 cm
  • Kepala relative lebih besar daripada badannya, kulit tipis,transparan, lanugo banyak, lemak subkutan sedikit.
  • Osifikasi tengkorak sedikit, ubun-ubun dan sutura lebar, genitalia immature, labia minora dan klitoris terlihat besar, labia minora belum tertutup oleh labia mayora. Pada laki-laki testis belum turun.
  • Pembuluh darah kulit banyak terlihat dan peritaltik ususpun dapat terlihat.
  • Rambut biasanya tipis, halus dan teranyam sehingga sulit terlihat satu per Satu
  • Daun telinga datar, lembut karena tulang rawannya masih sedikit
  • Putting susu belum terbentuk dengan baik, jaringan mamae belum terbentuk semua
  • Muskuler pleksornya belum berkembang serta tonus otot belum sempurna
  • Kondisi ekstermitas lemah dengan sedikit gerakan atau tidak ada kegiatan yang aktif bergerak
  • Berbaring dalam posisi ekstensi
  • Bayi lebih banyak tertidur daripada terbangun, tangisnya lemah, pernafasan belum teratur dan sering terdapat apneu
  • Otot masih hipnotonik, sehingga sikap selalu dalam keadaan kedua tungkai dalam keadaan abduksi, sendi lutu dan kaki dalam keadaan fleksi dan kepala menghadap kearah satu jurusan
  • Reflek tonus otot biasanya masih lemah, reflek moro (+). Reflek menghisap dan menelan belum sempurna, begitu juga dengan reflek batuk. Frekuensi nadi 100-140/menit, pernafasan pada hari pertama 40-50/menit, pada hari-hari berikutnya 35-45/menit.
  1. d. Masalah yang umum terjadi pada bayi premature
  • Sistem respirasi

Yang umum terjadi adalah serangan apneu, karena surfaktan yang berperan untuk tegangan albveoli yang berkaitan erat dengan penurunan tegangan permukaan alveoli dan akan mengurangi resistensi terhadap pengembangan pada waktu inspirasi dan mencegah pada waktu kolaps alveolus pada waktu ekspirasi. Pada bayi premature surfaktan belum smpurna dihasilkan sehingga bayi muda terserang sindroma gawat napas (SGN).

  • Masalah termoregulasi

Terjadi karena kulit tipis dan dekat dengan permukaan. Lemak subkutan sedikit, sehingga panas cepat hilang, pusat control temperature di otak belum matur dan biasanya lebih lanjut menyebabkan afiksia. Komplikasinya dapat terjadi hipoglikemi dan masalah respirasi

  • Masalah keseimbangan cairan dan elektrolit

Bayi ini mudah kehilangan cairan karena sedikit perlindungan subkutan dan komposisi air dalam tubuh lebih besar, kulit lebih permeable dibandingkan dengan bayi normal. Permukaan tubuh klien lebih besar dari BB. Fototerapi bisa menyebabkan banyak kehilangan cairan, water loss yang terjadi melalui repirasi dan GIT

  • Masalah integument

Kulit lebih mudah robek, rusak dan permeable. Tindakan sering dilakukan seperti cairan endotrakeal, IV, dan lamanya sangat merusak kulit. Bagitu juga dengan tindakan desinfektan seperti alcohol, betadine sebelum tindakana invasive dapat merusak kulit dan mudah menyerap.

  1. e. Komplikasi
  • SGN, penyakit membrane hialin, biasanya disebabkan oleh surfaktan yang inadekuat/tidak sempurna dalam tubuh
  • Pneumonia aspirasi karena reflek menelan dan batuk belum sempurna
  • Pre ventrikuler-intra ventrikuler hemoragi, perdarahan spontan pada ventrikel otak yang biasanya disebabkan oleh anoksia jaringan
  • Hiperbilirubenemia karena gangguan pertumbuhan hati

Dismatur

  1. a. Definisi

Dismatur adalah bayi yang BB lahirnya dibandingkan dengan BB yang seharusnya pada masa gestasinya (IKA,UI 2002)

BB yang kurang dari BB lahir seharusnya untuk masa gestasi tertentu adalah BB lahirnya di bawah persentil 10 menurut kurva pertumbuhan, dismatur dapat juga terjadi pada preterm, term ,postterm. Nama lain yang sering digunakan adalah KMK (Kecil Masa Kehamilan).

  1. b. Etiologi
  • Banyak factor yang menyebabkannya, terutama berhubungan dengan keadaan yang mengganggu pertukaran zat antara ibu dan janin
  • Kelainan congenital, infeksi fetal dari rubella atau cytomegalovirus
  • Gangguan fungsi plasenta seperti ukuran kecil, plasenta menua, dll
  • Penyakit pada ibu seperti hipertensi selama kehamilan
  • Rokok, alcohol, malnutrisi yang berat pada ibu
  1. c. Manifestasi klinis
  • Pada preterm, terlihat gejala fisus bayi premature murni dan gejala dismaturitas, retardasi mental dan wasting
  • Pada term gejala yang menonjol adalah wasting
  • Poast term sama dengan term

Bayi dismatur dengan tanda wasting atau insufisiensi palsenta dapat dibagi dalam 3 atadium menurut berat dan ringannya wasting yaitu :

  1. Stadium I : bayi tampak kurus dan realatif lebih panjang, kulit longgar, kering seperti perkamen tetapi bel;um terdapat noda mekonium
  2. Stadium II : didapatkan tanda-tanda stadium I ditambah warna kehjauan pada kulit, plasenta dan umbilicus, hal ini kemudian mengendap kedalam kulit, umbilicus dan plasenta sebagai akibat anoksia intrauterine
  3. Stadium III : ditemukan stadium II ditambah dengan kulit berwarna kuning, demikian pila pada kuku dan tali pusat.
  4. d. Komplikasi dismatur
  • Sindrom aspirasi mekonium

Akibat mekonium dilepaskan dalam liquor amnion, cairan yang mengandung amnion masuk ke paru akibat inhalasi

  • Hipoglikemi simptomatik

Biasanya terjadi akibat persediaan glikogen yang sangat kurang

  • Asfiksia neonatorum
  • Penyakit membran hialin

Karena bayi dismatur preterm belum cukup surfaktannya sehingga alveoli selalu kolap

  • Hiperbilirubenemia

Diesbabkan karena gangguan pertumbuhan hati

Penatalaksanaan BBLR

  • Pastikan bahwa bayi terjaga tetap hangat

Bungkus bayi dengan kain lunak, kering, selimut, pakai topi untuk menghindari kehilangan panas

  • Awasi frekuensi pernapsan terutama dalam 24 jam pertama, guna mengetahui syndrome aspirasi mekonium/sindrom gangguan pernapasan idiopatik
  • Suhu diawasi jangan sampai kediniginan karena BBLR mudah hipotermi akibat dari luas permukaan tubuh bayi realitf besar dari lemak subkutan. BMR dari BBLR rendah saat lahir dan meningkat cepat selama 10 hari pertama kehidupan. Oleh karena itu penting untuk mempertahankan suhu tubuh dengan memberikan pakaian pada bayi. Suhu ruangan yang terlalu tinggi atau terlalu rendah tidak sesuai dengan seharusnya dapat meningkatkan kematian bayi BBLR
  • Dorong ibu menyusui dalam 1 jam sekali
  • Jika bayi haus, beri makanan dini berguna untuk mencegah hipoglekimia
  • Jika bayi sinaosis atau sukar bernafas (frekuensi < 30 atau 60/menit)). Tarikan dinding dada ke dalam atau merintih beri O2 melalui kateter hidung.
  • Cegah infeksi oleh karena rentan oleh pemindahan IgB dari ibu ke janin terganggu. Bayi BBLR ditempatkan di ruang khusus, harus ada pengaturan izin masuk, mencucui tangan sesudah dan sebelum menyentuh bayi serta gunakan gound dan masker.
  • Perika kadar gula darah tiap 8-12 jam.

B.         ASUHAN KEPERAWATAN BBLR

  1. I. Pengkajian
    1. Riwayat kesehatan
  • Riwayat pra,intra,postnatal seperti persalinan saat usia muda,giziburuk saat hamil karena sosek yang rendah,jarak kehamilan yang dekat,kehamilan ganda,obat-obatan yang mungkin digunakan saat hamil
  • Riwayat kesehatan sekarang (ditemukan saat pemeriksaan fisik)
  • Riwayat kesehatan keluarga (ada anggota keluarga lainnya yang melahirkan dengan BBLR)
  1. Pengkajian Fisik
  • Sirkulasi

Nadi apikal mungkin cepat dan / atau tidak teratur dalam batas normal (120-160 dpm). Murmur jantung yang dapat didengar dapat menandakan duktus arteriosus paten (PDA).

Pengkajian tambahan :

  • Tentukan frekuensi dan irama jantung
  • Gambarkan bunyi jantung termasuk adanya murmur
  • Gambarkan warna bunyi : sianosis, pucat, ikterik
  • Kaji warna bantalan kuku, membran mukosa dan bibir
  • Tentukan tekanan darah
  • Gambarkan nadi perifer, pengisian kapiler, perfusi perifer
  • Makanan / Cairan
    • Berat badan kurang dari 2500 gr
    • Tentukan adanya distensi abdomen
    • Tentukan adanya tanda-tanda regurgitasi dan kulit yang berhubungan dengan pemberian makan, karakter dan jumlah sisa bila diberi makanan melalui lavase. Bila selang NGT terpasang, gambarkan tipe penghisapan, drainase
    • Gambarkan jumlah, warna, konsistensi, dan bau dari adanya muntah
    • Palpasi daerah tepi hati
    • Gambarkan jumlah, warna dan konsistensi feces
    • Gambarkan bising usus
    • Neurosensori
      • Gambarkan gerakan bayi, evaluasi berdasarkan usia gestasi
      • Gambarkan jumlah, warna, pH, temuan lapstick dan berat jenis urin
      • Periksa BB
      • Tubuh biasanya panjang, kurus, lemas dengan perut agak gendut
      • Ukuran kepala besar dalam hubungannya dengan tubuh, sutura mungkin mudah digerakkan, fontanel mungkin besar atau terbuka lebar.
      • Dapat mendemonstrasikan kedutan atau mata berputar
      • Edema kelopak mata umum terjadi, mata mungkin merapat (tergantung usia gestasi)
      • Refleks tergantung : rooting terjadi dengan gestasi minggu ke 32; koordinasi refleks untuk menghisap, menelan dan bernafas nbiasa terbentuk pada gestasi minggu ke 32 ; komponen pertama reflek moro (ekstensi lateral dari ekstremitas atas dengan membuka tangan) tampak pada gestasi minggu ke 28, komponen kedua (fleksi anterior dan menangis yang dapat didengar) tampak pada gestasi minggu ke 32.
      • Pernapasan
        • Gambarkan bentuk dada, kesimetrisan, adanya insisi, selang dada
        • Gambarkan penggunaan otot aksesoris, pernafasan cuping hidung, retraksi
        • Tentukan frekuensi dan keteraturan pernapasan
        • Tentukan apakah penghisapan diperlukan
        • Auskultasi dan gambarkan bunyi pernapasan
        • Skor apgar mungkin rendah
        • Pernapasan mungkin dangkal, tidak teratur, pernapasan diafragmatik intermitten atau periodik (40-60x/menit)
        • Keamanan
          • Tentukan suhu kulit dan aksila, biasanya suhu berfluktuasi dengan mudah
          • Tentukan hubungan dengan suhu lingkungan
          • Gambarkan adanya perubahan warna, area kemerahan, tanda iritasi, lepuh, abrasi, area gundul
          • Tentukan tekstur dan turgor kulit ; kering, halus, pecah-pecah, terkelupas
          • Gambarkan adanya ruam, lesi kulit atau tanda lahir
          • Tentukan apakah kateter, infus IV, jarum, berada pada tempatnya dan amati apakah ada tanda-tanda inflamasi
          • Gambarkan jalur pemasangan kateter IV, jenis infus, frekuensi aliran, jenis jarum, tampilkan area insersi
          • Menangis mungkin lemah
          • Wajah mungkin memar, mungkin ada kaput suksedaneum
          • Kulit kemerahan atau tembus pandang; warna mungkin merah muda/kebiruan, akrosianosis atau sianosis/pucat
          • Lanugo terdistribusi secara luas diseluruh tubuh
          • Ekstremitas mungkin tampak edema
          • Garis telapak kaki mungkin atau mungkin tidak ada pada semua atau sebagian telapak
          • Kuku mungkin pendek
          • Genitourinaria
            • Persalinan atau kelahiran mungkin tergesa-gesa
            • Genitalia ; labia minora wanita mungkin lebih besar dari labia mayora dengan klitoris menonjol. Testis pria mungkin tidak turun, rugae mungkin banyak atau tidak ada pada skrotum.
            • Gambarkan jumlah, warna, pH, temuan lapstick dan berat jenis urin.
  1. Penyuluhan /Pembelajaran

Riwayat ibu dapat menunjukkan faktor-faktor yang memperberat persalinan praterm, seperti :

  • Usia muda
  • Latar belakang sosial ekonomi rendah
  • Rentang kehamilan dekat
  • Gestasi multipel
  • Nutrisi buruk
  • Kelahiran praterm sebelumnya
  • Komplikasi obstetrik seperti abrupsio plasentae
  • Ketuban pecah dini
  • Dilatasi serviks prematur
  • Adanya infeksi
  • Inkompabilitas darah berhubungan dengan eritroblastosis fetalis atau penggunaan obat yang diresepkan, dijual bebas atau obat jalanan.
  1. Pemeriksaan Diagnostik

Pilihan tes dan hasil yang diperkirakan tergantung pada adanya masalah dan komplikasi sekunder :

  • Studi cairan amniotik

Untuk rasio lesitin terhadap sfingomielin (L/S), profil paru janin dan fosfatidilinositol mungkin telah dilakukan selama kehamilan untuk mengkaji maturitas janin.

  • Jumlah darah lengkap (JDL)

Penurunan pada hemoglobin/hematokrit mungkin dihubungkan dengan anemia atau kehilangan darah. Sel darah putih mungkin kurang dari 10.000/mm3 dengan pertukaran kekiri (kelebihan dini dari netrofil dan pita) yang biasanya dihubungkan dengan penyakit bakteri berat.

  • Dekstrostik

Menyatakan hipoglikemia. Tes glukosa serum mungkin diperlukan bila hasil dekstrostik kurang dari 45 mg/ml

  • Kalsium serum

Mungkin rendah

  • Elektrolit (Na++, K+, Cl-)

Biasanya pada awal tetap berada pada batas normal

  • Golongan darah

Dapat menyatakan potensial inkompabilitas ABO

  • Penentuan Rh dan Coomb Langsung

Bila ibu Rh negatif dan ayah Rh positif. Menentukan inkompabilitas

  • Gas darah arteri

PO2 mungkin rendah, PCO2 mungkin meningkat dan menunjukkan asidosis ringan / sedang, sepsis atau kesulitan nafas yang lama.

  • Laju sedimentasi eritrosit

Meningkat menunjukkan respon inflamasi akut. Penurunan ESR menunjukkan resolusi inflamasi

  • Protein C-reaktif (beta globulin)

Ada dalam serum sesuai proporsi beratnya proses radang infeksius atau non infeksius

  • Jumlah trombosit

Trombositopenia dapat menyertai sepsis

  • Kadar fibrinogen

Dapat menurun selama koagulasi intravaskuler diseminata (KID) atau menjadi meningkat selama cedera atau inflamasi

  • Produk split fibrin

Ada pada KID

  • Kultur darah

Mengidentifikasi organisme penyebab yang dihubungkan denagn sepsis

  • Urinalisis

Mendeteksi abnormalitas, cedera ginjal

  • Berat jenis urin

Rentang antara 1,006 sampai 1,013 meningkat pada dehidrasi

  • Klinites / klinistik

Mengidentifikasi adanya gula dalam darah

  • Hemates

Memeriksa adanya darah pada feces; hasil positif menunjukkan nekrotisasi enterokolitis

  • Tes shake aspirat lambung

Menentukan ada atau tidaknya surfaktan

  • Sinar X dada

Sinar X dada (PA dan Lateral) dengan bronkogram udara. Dapart menunjukkan penampilan ground glass (RDS)

  • Seri USG kiranial

Mendeteksi ada ada dan beratnya hemoragi intraventrikuler (IVH)

  • Punksi lumbal

Dapat dilakukan untuk mengesampingkan meningitis.

  1. II. Diagnosa Keperawatan
  1. Tidak efektifnya termoregulasi b.d imaturitas control dan pengatur suhu tubuh dan berkurangnya lemak sub cutan didalam tubuh.
  2. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d ketidakmampuan tubuh dalam mencerna nutrisi (imaturitas saluran cerna).
  3. Resiko infeksi b.d defisiensi pertahanan tubuh (imunologi).
  4. Resiko gangguan integritas kulit b.d tipisnya jaringan kulit, imobilisasi.
  5. Kecemasan orang tua b.d situasi krisis, kurang pengetahuan.

III. Intervensi

Diagnosa I :

Tidak efektif termoregulasi b.d imaturitas control dan pengatur suhu tubuh dan berkurangnya lemak sub cutan didalam tubuh.

Hasil yang diharapkan :

  • Mempertahankan suhu kulit / aksi;la dalam 35,5-37,3oC
  • Bebas dari tanda-tanda stress dingin seperti menggigil.
Tindakan/Intervensi Rasional
  1. Perhatikan kelompok dan golongan darah ibu/bayi.

 

 

 

 

 

 

  1. Tinjau catatan intrapartum terhadap faktor risiko yang khusus, seperti berat badan lahir rendah ( BBLR) atau IUGR, prematuritas, proses metabolik abnormal, cedera vaskular, sirkulasi abnormal,sepsis, atau polisitemia.

 

 

  1. Perhatikan penggunaan ekstrator vakum untuk kelahiran. Kaji bayi terhadap adanya sefalohematoma dan ekimosis atau petekie yang berlebihan

 

 

  1. Tinjau ulang kondisi bayi pada kelahiran, perhatikan kebutuhan terhadap resusitasi atau petunjuk adanya ekimosis atau petekie yang berlebihan, asfiksia, atau asidosis.

 

 

  1. Pertahankan bayi tetap hangat dan kering, pantau kulit dan suhu inti dengan sering.

 

 

 

  1. Mulai pemberian makan oral awal dalam 4 sampai 6 jam setelah kelahiran, khususnya bila bayi diberi ASI.Kaji bayi terhadap tanda-tanda hipoglikemi.Dapatkan kadar dextrostix,sesuai indikasi.

 

 

 

  1. Evaluasi tingkat nutrisi ibu dan prenatal; perhatikan kemungkinan hipoproteinemia neonatus,khususnya pada bayi praterm.

 

 

  1. Observasi bayi dalam sinar alamiah, perhatikan sklera dan mukosa oral, kulit menguning segera setelah pemutihan,dan bagian tubuh tertentu terlibat. Kaji mukosa oral,bagian posterior dari palatum keras,dan kantung konjungtiva pada bayi baru lahir yang berkulit gelap.

 

 

 

  1. Perhatikan usia bayi pada awitan ikterik; bedakan tipe ikterik( mis, fisiologis,akibat ASI,atau patologis)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

10.  Gunakan meter ikterik transkutaneus

 

 

 

11.Evaluasi bayi terhadap pucat, edema, atau hepatomegali.

 

 

KOLABORASI

  1. Pantau pemeriksaan laboratorium, sesuai indikasi.

 

  1. Bilirubin direk dan indirek.

Tes coombs darah tali pusat direk /indirek.

 

 

 

  1. Kekuatan kombinasi CO2

Jumlah retikulosit dan smear perifer

 

 

 

  1. Hb/Ht

 

 

 

 

 

 

 

  1. Protein serum total

 

 

 

  1. Hitung kapasitas ikatan plasma bilirubin-albumin
Inkompatibilitas ABO mempengaruhi 20% dari semua kehamilan dan paling umum terjadi pada ibu dengan golongan darah O, yang antibodinya anti-A dan anti-B melewati sirkulasi janin, menyebabkan aglutinasi dan hemolisis SDM. Serupa dengan itu, bila ibu RH-negatif sebelumnya telah disensitasi oleh antigen RH-positif, antibodi ibu melewati plasenta dan bergabung pada SDM janin, menyebabkan hemolisis lambat atau segera. 

Kondisi klinis tertentu dapat menyebabkan pembalikan barier darah-otak, memungkinkan ikatan bilirubin terpisah pada tingkat membran sel atau dalam sel itu sendiri, meningkatkan risiko terhadap keterlibatan SSP.

 

 

Resorpsi darah yang terjebak pada jaringan kulit kepala janin dan hemolisis yang berlebihan dapat meningkatkan jumlah bilirubin yang dilepaskan dan menyebabkan ikterik.

 

Asfiksia dan asidosis menurunkan afinitas bilirubin terhadap albumin.

 

 

 

 

Stres dingin berpotensi melepaskan asam lemak, yang bersaing pada sisi ikatan pada albumin, sehingga meningkatkan kadar bilirubin yang bersirkulasi dengan bebas ( tidak berikatan ).

 

Keberadaan flora usus yang sesuai untuk pengurangan bilirubin terhadap urobilinogen; turunkan sirkulasi enterohepatik bilirubin

(melintasi hepar dengan duktus venosus menetap) dan menurunkan resorpsi bilirubin dari usus dengan meningkatkan pasase mekonium. Hipoglikemia memerlukan penggunaan simpanan lemak untuk asam lemak pelepas energi, yang bersaing dengan bilirubin untuk bagian ikatan pada albumin.

Hipoproteinemia pada bayi baru lhir dapat mengakibatkan ikterik. Satu gram albumin membawa 16mg bilirubin tidak terkonjugasi. Kekurangan albumin yang cukup meningkatkan jumlah sirkulasi bilirubin tidak terikat (indirek), yang dapat melewati barier darah otak.

 

Mendeteksi bukti/derajat ikterik. Penampilan klinis dari ikterik jelas pada bilirubin lebih besar dari 7-8 mg/dl pada bayi cukup bulan. Perkiraan derajat ikterik adalah sebagai berikut: dengan ikterik yang dimulai dari kepala ke jari kaki, 4-8 mg/dl; batang tubuh 5-12 mg/dl; lipat paha 8-16 mg/dl; lengan/kaki 11-18mg/dl; dan tangan/kaki 15-20 mg/dl. Pigmen dasar kuning mungkin normal pada bayi berkulit gelap.

 

Ikterik fisiologis biasanya tampak antara hari pertama dan kedua dari kehidupan, seperti kelebihan SDM yang diperlukan untuk mempertahankan oksigenasi adekuat pada janin tidak lagi diperlukan oleh bayi baru lahir dan dihemolisis, sehingga melepaskan bilirubin, produk pemecahan akhir dari heme. Ikterik karena ASI biasanya tampak antara hari keempat dan keenam kehidupan, mempengaruhi hanya 1%-2% bayi menyusu. ASI dari banyak wanita dianggap mengandung enzim (pregnanediol) yang menghambat transferase(enzim hepar yang berkonjugasi dengan bilirubin), atau mengandung beberapa kali konsentrasi ASI normal dari asam lemak bebas tertentu,yang juga dianggap menghambat konjugasi bilirubin. Ikterik patologis tampak dalam 24 jam pertama kehidupan dan lebih mungkin menimbulkan perkembangan kernikterus/ensefalopati bilirubin.

 

Memberikan skrining noninvasif terhadap ikterik,menghitung warna kulit dalam hubungannya dengan bilirubin serum total.

 

Tanda-tanda ini mungkin berhubungan dengan hidrops fetalis, inkompatibilitas RH, dan pada hemolisis uterus SDM janin.

 

 

Bilirubin tampak dalam dua bentuk : bilirubin direk, yang dikonjugasi oleh enzim hepar glukoronil transferase, dan bilirubin indirek yang dikonjugasi dan tampak dalam bentuk bebas dalam darah atau terikat pada albumin. Bayi potensial terhadap kernikterus diprediksi paling baik melalui peningkatan kadar bilirubin indirek. Peningkatan kadar bilirubin indirek 18-20 mg/dl pada bayi cukup bulan, atau lebih besar dari 13-15 mg/dl pada pratern atau bayi sakit, adalah bermakna.

 

Hasil positif dari tes coombs indirek menandakan adanya antibodi ( Rh –positif atau anti-A atau anti-B) pada darah ibu dan bayi menandakan adanya sensitisasi ( Rh positif, anti-A,atau anti-B) SDM pada neonatus.

 

Penurunan konsistensi dengan hemolisis

Hemolisis berlebihan menyebabkan jumlahretikulosit meningkat. Swear mengidentifiaksi SDM abnormal atau imatur.

 

Peningkatan kadar Hb/Ht menandakan polisitemia,kemungkinan disebabkan oleh pelambatan pengkleman tali pusat, transfusi maternal ibu, transfusi kembaran-kembaran,ibu diabetes atau stres intrauterus kronis dan hipoksia seperti terlihat pada bayi BLR atau bayi dengan penurunan sirkulasi plasenta.

 

Kadar rendah protein serum ( kurang dari 3 gr/dl ) menandakan penurunan kapasitas ikatan terhadap bilirubin.

 

Membantu dalam menentukan risiko kemikterus dan kebutuhan tindakan. Bila nilai bilirubin total dibagi dengan kadar protein total serum kurang dari 3,7 bahaya kernikterus sangat rendah. Namun, risiko cedera tergantung pada derajat prematuritas,adanya hipoksia atau asidosis dan aturan obat ( mis sulfonamid, kloramfenikol)

 

Diagnosa Keperawatan II:

Nutrisi,perubahan,kurang dari kebutuhan tubuh, risiko tinggi terhadap imaturasi produksi enzim, penurunan produksi asam hidrokolik, imaturasi sfingter kardia, otot abdominal lemah, kapasitas lambung kecil,refleks lemah, tidak ada atau tidak sinkron berkenaan dengan pemberian makan, ketidakadekuatan kadar nutrisi simpanan.

Hasil yang diharapkan:

  • Mempertahankan pertumbuhan dan peningkatan berat badan dalam kurva normal, dengan penambahan berat badan tetap sedikitnya 20-30 g/hari.
  • Mempertahankan glukosa serum DBN dan keseimbangan nitrogen positif.
INTERVENSI RASIONAL
  1. Kaji maturitas refleks berkenaan dengan pemberianmakan(mis:menghisap,menelan,gag, dan batuk)

 

 

 

  1. Auskultasi terhadap adanya bising usus. Kaji status fisik dan status pernafasan.

 

 

 

 

  1. Mulai memberi makan sementara atau dengan menggunakan selang sesuai indikasi.

 

 

 

 

  1. Kaji pemasangan yang tepat dari selang pemberian makan pada bayi,gunakan prosedur pengkleman yang tepat untuk mencegah masuknya udara ke dalam lambung.

 

 

 

  1. Masukkan ASI/ formula dengan perlahan selama 20menit pada kecepatan 1ml/menit.

 

 

 

  1. Kaji tingkat energi dan penggunaannya, derajat kelelahan, frekuensi pernafasan, dan lama waktu yang diperlukan untuk makan.

 

 

 

  1. Penuhi kebutuhan menghisap pada bayi dengan menggunakan dot selama pemberian makan per selang. Bila bayi menjadi kadang-kadang menyusu ASI, ibu dapat menggosok dot pada payudara, melembabkannya dengan sedikit ASI untuk memberi bau padanya. Ia dapat jg menggendong bayi selama pemberian makan.

 

 

 

 

  1. Tunda drainase postural selama sedikitnya 1 jam setelah pemberian makan.

 

 

 

  1. Perhatikan adanya diare, muntah, regurgitasi,residu lambung berlebihan, atau hasil positif dari tes guaiak.

 

 

10.  Pantau kadar dextrostix dan clinitest per protocol.

 

 

 

11.  Pertahankan termonetral lingkungan dan oksigenasi jaringan yang tepat.Gangguan pada bayi harus seminimal mungkin.

 

 

12.  Pantau bayi terhadap reaksi local atau sistemik untuk pemberian makan parenteral (mis peningkatan suhu, trombosis pembuluh darah,dispnea, muntah, dan sianosis)

 

 

13.Catat pertumbuhan dengan membuat pengukuran berat badan setiap hari dan setiap minggu dari panjang badan dan lingkar kepala.

 

 

 

KOLABORASI

14.  Mulai pemberian makan dengan air steril,glukosa, dan ASI atau formula, dengan tepat.

 

15.  Beri makan sesering mungkin sesuai indikasi berdasarkan berat badan bayi dan perkiraan kapasitas lambung.

 

16.  Gunakan formula pekat untuk memberikan 120-150 kal/kg/hari atau lebih, dengan protein 3-4 g/kg/hari. Tambahkan suplemen ke ASI untuk pemberian makan melalui selang sesuai kebutuhan.

 

 

17.  Berikan vitamin dan mineral, khususnya A.C,D,dan E dan zat besi sesuai indikasi.

 

 

18.  Pantau pemeriksaan laboratorium mis: glukosa serum, elektrolit, protein total.

Menentukan metoda pemberian makan yang tepat untuk bayi. 

 

Pemberian makan pertama pada bayi stabil yang memiliki peristaltic dapat dimulai 6-12 jam setelah kelahiran. Bila distress pernafasan ada, cairan parenteral diindikasikan, dan cairan per oral harus

ditunda.

 

Pemberian makan per selang mungkin perlu untuk memberikan nutrisi yang adekuat pada bayi yang telah mengalami koordinasi menghisap yang buruk dan refleks menelan atau yang menjadi lelah selama pemberian makan.

 

Pemasangan pada trakea yang tiadak tepat dapat menurunkan fungsi pernafasan.

 

 

 

 

Pemasukan makanan ke dalam lambung yang terlalu cepat dapat menyebabkan respon balik cepat dengan regurgitasi,peningkatan risiko aspirasi,dan distensi abdomen, smua ini menurunkan status pernafasan.

 

Penggunaan energi berlebihan selama makan menurunkan ketersediaan kalori untuk pertumbuhan dan perkembangan normal.

 

 

Memberikan kepuasan oral sehingga bayi menghubungkan kepuasan diri dalam menghisap dengan kenyamanan dari pengisian lambung.

 

 

 

 

 

 

Memungkinkan pencernaan optimal dan absorpsi dari pemberian makan, membantu mencegah regurgitasi berkenaan dengan peningkatan penanganan.

 

Menandakan kerusakan fungsi lambung.

Karena hepar imatur tidak menyimpan atau melepaskan glikogen dengan baik,risiko hipoglikemia meningkat.

 

Stres dingin, hipoksia, dan penanganan yang berlebihan, meningkatkan laju metabolisme dan kebutuhan kalori bayi, kemungkinan mengorbankan pertumbuhan dan peningkatan berat badan.

 

Kira-kira 50% komplikasi yang berhubungan dengan nutrisi parenteral total (NPT) adalah karena sepsis, biasanya septicemia candida.

 

Komplikasi lain meliputi kelebihan beban cairan dan obrtruksi atau perubahan posisi kateter.

 

 

Pertumbuhan dan peningkatan berat badan adalah criteria untuk penentuan kebutuhan kalori, untuk menyesuaikan formula, dan untuk menentukan frekuensi pemberian makan. Pertumbuhan mendorong peningkatan kebutuhan kalori dan kebutuhan protein.

 

Pemberian makan dini mencegah penurunan cadangan

 

 

Bayi kurang dari 1250g (2 lb 12 oz) diberi makan setiap 2jam, bayi antara1500-1800g

(3bln  sampai 4 bl) diberi makan setiap 3jam.

 

Masukkan kalori harus cukup untuk mencegah katabolisme. Formula yang pekat memberikan lebih banyak kalori dalam volume yang lebih sedikit,yang perlu karena penurunan kapasitas dan pengosongan lambung, serta bahaya menekan ginjal imatur.

 

Menggantikan simpanan nutrient rendah untuk meningkatkan keadekuatan nutrisi dan menurunkan risiko infeksi.

 

Mengukur ketepatan NPT

 

 

Sumber :

http://kumpulan-asuhan-keperawatan.blogspot.com
http://download-my-ebook.blogspot.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SINDROMA GAWAT NAPAS

 

  1. A. KONSEP DASAR

 

  1. 1. PENGERTIAN

Sindrom gawat nafas ( respiratory distress syndroma, RDS ) adalah:

  • Kumpulan gejala yang terdiri dari dispnea atau hiperpnea dengan frekuensi pernafasan besar 60 x/i, sianosis, merintih waktu ekspirasi dan retraksi didaerah epigastrium, suprosternal, interkostal pada saat inspirasi. ( Ngatisyah.2005 hal 23 )
  • Kumpulan gejala yang terdiri dari frekuensi nafas bayi lebih dari 60x/i atau kurang dari 30x/i dan mungkin menunjukan satu atau lebih dari gejala tambahan gangguan nafas sebagai berikut:
  1. Bayi dengan sianosis sentral ( biru pada lidah dan bibir )
  2. Ada tarikan dinding dada
  3. Merintih
  4. Apnea ( nafas berhenti lebih dari 20 detik ) ( PONED,2004 )
  • Istilah yang digunakan untuk disfungsi pernafasan pada neonatus. ( Surasmi, asrining,dkk. 2003 hal 70 )
  • Gangguan ini merupakan penyakit yang berhubungan dengan perkembangan maturitas paru  ( Whalley dan wong, 1995 )
  • Menurut Petty dan Asbaugh (1971), definisi dan kriteria RDS bila didapatkan sesak nafas berat (dyspnea ), frekuensi nafas meningkat (tachypnea ), sianosis yang menetap dengan terapi oksigen, penurunan daya pengembangan paru,adanya gambaran infiltrat alveolar yang merata pada foto thorak dan adanya atelektasis, kongesti vascular, perdarahan, edema paru, dan adanya hyaline membran pada saat otopsi ( www.google.com )
  • Menurut Murray et.al (1988) disebut RDS apabila ditemukan adanya kerosakan paru secara langsung dan tidak langsung, kerosakan paru ringan sampai sedang atau kerosakan yang berat dan adanya disfungsi organ non pulmonar.  ( www.google.com )
  • Menurut Bernard et.al (1994) apabila onset akut, ada infiltrat bilateral pada foto thorak, tekanan arteri pulmonal =18mmHg dan tidak ada bukti secara klinik adanya hipertensi atrium kiri, adanya kerosakan paru akut dengan PaO2 : FiO2 kurang atau sama dengan 300, adanya sindrom gawat napas akut yang ditandai PaO2 : FiO2 kurang atau sama dengan 200, menyokong suatu RDS .  ( www.google.com )

 

 

  1. 2. ETIOLOGI
  • Kelainan paru: pneumonia
  • Kelainan jantung: penyakit jantung bawaan, disfungsi miokardium
  • Kelainan susunan syaraf pusat akibat: Aspiksia, perdarahan otak
  • Kelainan metabolik: hipoglikemia, asidosis metabolik
  • Kelainan bedah: pneumotoraks, fistel trakheoesofageal, hernia diafragmatika
  • Kelainan lain: sindrom Aspirasi mekonium, penyakit membran hialin

Bila menurut masa gestasi penyebab gangguan nafas adalah :

-          Pada bayi kurang bulan

  1. penyakit membran hialin
  2. b.pneumonia
  3. asfiksia
  4. d.kelainan atau malformasi kongenital

-          Pada bayi cukup bulan

  1. Sindrom Aspirasi Mekonium
  2. pneumonia
  3. asidosis
  4. kelainan atau malformasi kongenital

Gangguan traktus respiratorius:

  • Hyaline Membrane Disease(HMD),

Berhubungan dengan kurangnya masa gestasi ( bayi prematur )

  • Transient Tachypnoe of the Newborn(TTN),

Paru-paru terisi cairan, sering terjadi pada bayi caesar karena dadanya tidak mengalami kompresi oleh jalan lahir sehingga menghambat pengeluaran cairan dari dalam paru.

  • Infeksi(Pneumonia),
  • Sindroma Aspirasi,
  • Hipoplasia Paru,
  • Hipertensi pulmonal,
  • Kelainan kongenital(Choanal Atresia, Hernia Diafragmatika, Pierre- robin syndrome),
  • Pleural Effusion,
  • Kelumpuhan saraf frenikus,
  • Luar traktus respiratoris:
  • kelainan jantung kongenital, kelainan metabolik, darah dan SSP
  1. 3. PATOFISIOLOGI

Faktor-faktor yang memudahkan terjadinya RDS pada bayi prematur disebabkan oleh alveoli masih kecil sehingga kesulitan berkembang, pengembangan kurang sempurna kerana dinding thorax masih lemah, produksi surfaktan kurang sempurna. Kekurangan surfaktan mengakibatkan kolaps pada alveolus sehingga paru-paru menjadi kaku. Hal tersebut menyebabkan perubahan fisiologi paru sehingga daya pengembangan paru (compliance) menurun 25% dari normal, pernafasan menjadi berat, shunting intrapulmonal meningkat dan terjadi hipoksemia berat, hipoventilasi yang menyebabkan asidosis respiratorik. Telah diketahui bahwa surfaktan mengandung 90% fosfolipid dan 10% protein , lipoprotein ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan dan menjaga agar alveoli tetap mengembang.

Secara makroskopik, paru-paru nampak tidak berisi udara dan berwarna kemerahan seperti hati. Oleh sebab itu paru-paru memerlukan tekanan pembukaan yang tinggi untuk mengembang. Secara histologi, adanya atelektasis yang luas dari rongga udara bahagian distal menyebabkan edema interstisial dan kongesti dinding alveoli sehingga menyebabkan desquamasi dari epithel sel alveoli type II. Dilatasi duktus alveoli, tetapi alveoli menjadi tertarik karena adanya defisiensi surfaktan ini. Dengan adanya atelektasis yang progresif dengan barotrauma atau volutrauma dan keracunan oksigen, menyebabkan kerosakan pada endothelial dan epithelial sel jalan pernafasan bagian distal sehingga menyebabkan eksudasi matriks fibrin yang berasal dari darah. Membran hyaline yang meliputi alveoli dibentuk dalam satu setengah jam setelah lahir. Epithelium mulai membaik dan surfaktan mulai dibentuk pada 36- 72 jam setelah lahir. Proses penyembuhan ini adalah komplek; pada bayi yang immatur dan mengalami sakit yang berat dan bayi yang dilahirkan dari ibu dengan chorioamnionitis sering berlanjut menjadi Bronchopulmonal Displasia (BPD).

  1. 4. MANIFESTASI KLINIS

Berat dan ringannya gejala klinis pada penyakit RDS ini sangat dipengaruhi oleh tingkat maturitas paru. Semakin rendah berat badan dan usia kehamilan, semakin berat gejala klinis yang ditujukan.

Menurut Surasmi, dkk (2003) tanda dan gejala yang muncul adalah sebagai berikut :

  1. Takhipneu (> 60 kali/menit)
  2. Pernafasan dangkal
  3. Mendengkur
  4. Sianosis
  5. Pucat
  6. Kelelahan
  7. Apneu dan pernafasan tidak teratur
  8. Penurunan suhu tubuh
  9. Retraksi suprasternal dan substernal
  10. Pernafasan cuping hidung

 

  1. 5. KLASIFIKASI

Secara klinis gangguan nafas dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu:

  1. Gangguan nafas berat
  2. Gangguan nafas sedang
  3. Gangguan nafas ringan

 

Tabel 1. Klasifikasi Gangguan Nafas

Klasifikasi Frekuensi nafas Gejala tambahan
Gangguan nafas berat 60 kali/ menit90 kali/ menit Dengan sianosis sentral dan tarikan dinding dada atau merintih saat ekspirasiDengan sianosis sentral atau tarikan dinding dada atau merintih saat ekspirasi

Dengan atau tanpa gejala lain dari gangguan nafas

Gangguan nafas sedang 60-90 kali/ menit> 90 kali/ menit Dengan tarikan dinding dada atau merintih saat ekspirasi tetapi tanpa sianosis sentralTanpa tarikan dinding dada atau merintih saat ekspirasi atau sianosis sentral
Gangguan nafas ringan 60-90 kali/ menit Tanpa tarikan dinding dada atau merintih saat ekspirasi atau sianosis sentral

 

  1. 6. PEMERIKSAAN
  • Pemeriksaan fisik

Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan takhipneu (> 60 kali/menit), pernafasan mendengkur, retraksi subkostal/interkostal, pernafasan cuping hidung, sianosis dan pucat, hipotonus, apneu, gerakan tubuh berirama, sulit bernafas dan sentakan dagu. Pada awalnya suara nafas mungkin normal kemudian dengan menurunnya pertukaran udara, nafas menjadi parau dan pernapasan dalam.

Pengkajian fisik pada bayi dan anak dengan kegawatan pernafasan dapat dilihat dari penilaian fungsi respirasi dan penilaian fungsi kardiovaskuler.

Penilaian fungsi respirasi meliputi:

  1. Frekuensi nafas

Takhipneu adalah manifestasi awal distress pernafasan pada bayi. Takhipneu tanpa tanda lain berupa distress pernafasan merupakan usaha kompensasi terhadap terjadinya asidosis metabolik seperti pada syok, diare, dehidrasi, ketoasidosis, diabetikum, keracunan salisilat, dan insufisiensi ginjal kronik. Frekuensi nafas yang sangat lambat dan ireguler sering terjadi pada hipotermi, kelelahan dan depresi SSP yang merupakan tanda memburuknya keadaan klinik.

  1. Mekanika usaha pernafasan

Meningkatnya usaha nafas ditandai dengan respirasi cuping hidung, retraksi dinding dada, yang sering dijumpai pada obtruksi jalan nafas dan penyakit alveolar. Anggukan kepala ke atas, merintih, stridor dan ekspansi memanjang menandakan terjadi gangguan mekanik usaha pernafasan.

  1. Warna kulit/membran mukosa

Pada keadaan perfusi dan hipoksemia, warna kulit tubuh terlihat berbercak (mottled), tangan dan kaki terlihat kelabu, pucat dan teraba dingin.

Penilaian fungsi kardiovaskuler meliputi:

  1. Frekuensi jantung dan tekanan darah

Adanya sinus tachikardi merupakan respon umum adanya stress, ansietas, nyeri, demam, hiperkapnia, dan atau kelainan fungsi jantung.

  1. Kualitas nadi

Pemeriksaan kualitas nadi sangat penting untuk mengetahui volume dan aliran sirkulasi perifer nadi yang tidak adekwat dan tidak teraba pada satu sisi menandakan berkurangnya aliran darah atau tersumbatnya aliran darah pada daerah tersebut. Perfusi kulit kulit yang memburuk dapat dilihat dengan adanya bercak, pucat dan sianosis. Pemeriksaan pada pengisian kapiler dapat dilakukan dengan cara:

  1. Nail Bed Pressure ( tekan pada kuku)
  2. Blancing Skin Test, caranya yaitu dengan meninggikan sedikit ekstremitas dibandingkan jantung kemudian tekan telapak tangan atau kaki tersebut selama 5 detik, biasanya tampak kepucatan. Selanjutnya tekanan dilepaskan pucat akan menghilang 2-3 detik.
  1. Perfusi pada otak dan respirasi

Gangguan fungsi serebral awalnya adalah gaduh gelisah diselingi agitasi dan letargi. Pada iskemia otak mendadak selain terjadi penurunan kesadaran juga terjadi kelemahan otot, kejang dan dilatasi pupil.

  • Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan diagnostik meliputi pemeriksaan darah, urine, dan glukosa darah ( untuk mengetahui hipoglikemia ). Kalsim serum ( untuk menentukan hipokalsemia ), analisis gas darah arteri dengan PaO2 kurang dari 50 mmHg dan PCO2 diatas 60 mmHg, peningkatan kadar kalium darah, pemeriksaan sinar-X menunjukkan adanya atelektasis, lesitin/spingomielin rasio 2 :1 mengindikasikan bahwa paru sudah matur, pemeriksaan dekstrostik dan fosfatidigliserol meningkat pada usia kehamilan 33 minggu.

  1. 7. PENATALAKSANAAN

Menurut Suriadi dan Yuliani (2001) dan Surasmi,dkk (2003) tindakan untuk mengatasi masalah kegawatan pernafasan meliputi :

  1. Mempertahankan ventilasi dan oksigenasi adekwat.
  2. Mempertahankan keseimbangan asam basa.
  3. Mempertahankan suhu lingkungan netral.
  4. Mempertahankan perfusi jaringan adekwat.
  5. Mencegah hipotermia.
  6. Mempertahankan cairan dan elektrolit adekwat.

 

  • Penatalaksanaan secara umum :
  1. Pasang jalur infus intravena, sesuai dengan kondisi bayi, yang paling sering dan bila bayi tidak dalam keadaan dehidrasi berikan infus dektrosa 5 %
  • Pantau selalu tanda vital
  • Jaga patensi jalan nafas
  • Berikan Oksigen (2-3 liter/menit dengan kateter nasal)
  1. Jika bayi mengalami apneu
  • Lakukan tindakan resusitasi sesuai tahap yang diperlukan
  • Lakukan penilaian lanjut

c.   Bila terjadi kejang potong kejang

d.   Segera periksa kadar gula darah

e.   Pemberian nutrisi adekuat

Setelah menajemen umum, segera dilakukan menajemen lanjut sesuai dengan kemungkinan penyebab dan jenis atau derajat gangguan nafas. Menajemen spesifik atau menajemen lanjut:

  1. Gangguan nafas ringan

Beberapa bayi cukup bulan yang mengalami gangguan napas ringan pada waktu lahir tanpa gejala-gejala lain disebut “Transient Tacypnea of the Newborn” (TTN). Terutama terjadi setelah bedah sesar. Biasanya kondisi tersebut akan membaik dan sembuh sendiri tanpa pengobatan. Meskipun demikian, pada beberapa kasus. Gangguan napas ringan merupakan tanda awal dari infeksi sistemik.

  1. Gangguan nafas sedang
  • Lakukan pemberian O2 2-3 liter/ menit dengan kateter nasal, bila masih sesak dapat diberikan O2 4-5 liter/menit dengan sungkup
  • Bayi jangan diberi minukm
  • Jika ada tanda berikut, berikan antibiotika (ampisilin dan gentamisin) untuk terapi kemungkinan besar sepsis.

-          Suhu aksiler <> 39˚C

-          Air ketuban bercampur mekonium

-          Riwayat infeksi intrauterin, demam curiga infeksi berat atau ketuban pecah dini (> 18 jam)

  • Bila suhu aksiler 34- 36,5 ˚C atau 37,5-39˚C tangani untuk masalah suhu abnormal dan nilai ulang setelah 2 jam:

-          Bila suhu masih belum stabil atau gangguan nafas belum ada perbaikan, berikan antibiotika untuk terapi kemungkinan besar seposis

-          Jika suhu normal, teruskan amati bayi. Apabila suhu kembali abnormal ulangi tahapan tersebut diatas.

  • Bila tidak ada tanda-tanda kearah sepsis, nilai kembali bayi setelah 2 jam
  • Apabila bayi tidak menunjukan perbaikan atau tanda-tanda perburukan setelah 2 jam, terapi untuk kemungkinan besar sepsis
  • Bila bayi mulai menunjukan tanda-tanda perbaikan kurangai terapi o2secara bertahap . Pasang pipa lambung, berikan ASI peras setiap 2 jam. Jika tidak dapat menyusu, berikan ASI peras dengan memakai salah satu cara pemberian minum
  • Amati bayi selama 24 jam setelah pemberian antibiotik dihentikan. Bila bayi kembali tampak kemerahan tanpa pemberian O2 selama 3 hari, minumbaik dan tak ada alasan bayi tatap tinggal di Rumah Sakit bayi dapat dipulangkan
  • Amati pernafasan bayi setiap 2 jam selama 6 jam berikutnya.
  • Bila dalam pengamatan ganguan nafas memburuk atau timbul gejala sepsis lainnya. Terapi untuk kemungkinan kesar sepsis dan tangani gangguan nafas sedang dan dan segera dirujuk di rumah sakit rujukan.
  • Berikan ASI bila bayi mampu mengisap. Bila tidak berikan ASI peras dengan menggunakan salah satu cara alternatif pemberian minuman.
  • Kurangi pemberian O2 secara bertahap bila ada perbaikan gangguan napas. Hentikan pemberian O2 jika frekuensi napas antara 30-60 kali/menit.
  • Penatalaksanaan medis:
  1. Gangguan nafas ringan

Pengobatan yang biasa diberikan selama fase akut penyakit RDS adalah:

  • Antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder
  • Furosemid untuk memfasilitasi reduksi cairan ginjal dan menurunkan caiaran paru
  • Fenobarbital
  • Vitamin E menurunkan produksi radikalbebas oksigen
  • Metilksantin ( teofilin dan kafein ) untuk mengobati apnea dan untuk pemberhentian dari pemakaian ventilasi mekanik. (cusson,1992)
  • Salah satu pengobatan terbaru dan telah diterima penggunaan dalam pengobatan RDS adalah pemberian surfaktan eksogen (derifat dari sumber alami misalnya manusia, didapat dari cairan amnion atau paru sapi, tetapi bisa juga berbentuk surfaktan buatan)

 

  1. 8. TINDAKAN PENCEGAHAN

Tindakan pencegahan yang harus dilakukan untuk mencegah komplikasi pada bayi resiko tinggi adalah mencegah terjadinya kelahiran prematur, mencegah tindakan seksio sesarea yang tidak sesuai dengan indikasi medis, melaksanakan manajemen yang tepat terhadap kehamilan dan kelahiran bayi resiko tinggi, dan pada penatalaksanaan kelahiran dengan usia kehamilan 32 minggu atau kurang dianjurkan memberi dexametason atau betametason 48-72 jam sebelum persalinan. Pemberian glukortikoid juga dianjurkan karana berfungsi meningkatkan perkembangan paru janin.

  1. B. ASUHAN  KEPERAWATAN PADA  KLIEN  DENGAN  SGN

1.Pengkajian

  1. Lakukan pengkajian fisik BBL dan pengkajian gestasi
  2. Lakukan pengkajian sistemik dengan penekanan khusus pada pengkajian pernafasan
  3. Observasi adanya  ; takipneu, retraksi substernal, krekel inspirasi, pernapasan mengorok, pernapasan cuping hidung eksternal,  sianosis, sulit bernapas.
  4. Bila penyakit berlanjut ; lemah dan lesu, tidak responsif, sering mengalami episode apnea, penurunan fungsi nafas, gangguan termoregulasi
  5. Penyakit yang berat berhubungan  dengan hal berikut ; keadaan seperti syok, penurunan curah jantung, rendahnya tekanan darah sistemik

 

2.Diagnosa Keperawatan

  • Pola nafas tidak efektif b.d defisiensi surfaktan, atelektasis
    • Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan mencerna makanan,kelelahan.
      • Pertumbuhan dan perkembangan, perubahan, risiko tinggi terhadap pengasingan dari orang terdekat, ketidakadekuatan perawatan,respon pengasuh tidak konsisten/multiple, kurang lingkungan dan stimulasi, efek-efek kondisi/ ketidakmampuan kronis.

 

3.Intervensi Keperawatan

  1. Diagnosa : Pola nafas tidak efektif b.d defisiensi surfaktan, atelektasis

Kriteria Hasil :

  • Pola nafas efektif dengan ventilasi adekuat (nafas 46-60x/i)
  • GDA dalam batas normal (Hb 9-14 mg%, Ht 41-50%)
  • Tanda distress pernapasan tidak ada
Intervensi Rasional
Mandiri1. Catat frekuensi dan kedalaman nafas

 

 

 

 

  1. Auskultasi paru untuk penurunan / tidak adanya bunyi nafas atau adanya bunyi tambahan, misal ; krekel.

 

  1. Kaji status pernapasan, bunyi napas, sianosis, retraksi dinding dada, cuping hidung, abnormalitas setiap 4 jam.

 

  1. Lakukan tindakan untuk memperbaiki / mempertahankan jalan nafas.

 

  1. Awasi tanda-tanda vital

 

 

  1. Kaji tingkat kesadaran / penuruman mental.

 

  1. Kaji toleransi aktivitas, kelemahan.

 

Kolaborasi

  1. Awasi GDA

 

  1. Berikan O2
  1. Takipnea dan dispnea menyertai obstruksi paru.  Kegagalan pernapasan lebih berat menyertai kehilangan unit paru fungsional dari sedang sampai berat.

 

  1. diidentifikasi dengan tikdak adanya bunyi napas.

 

 

 

 

  1. Menunjukkan tanda dari efek gawat napas yang lama memerlukan pemantauan yang ketat.

 

 

 

  1. Jalan nafas yang lengket / tersumbat menurunkan fungsi alveoli.

 

 

  1. Takikardi, takipneu dan perubahan TD menunjukkan hipoksia dan asidosis.

 

  1. Hipoksia dapat ditunjukkan dengan penurunan mental secara progresif.

 

  1. Hipoksemia menurunkan aktivitas tanpa dispnea berat, takikardi dan disritmia.

 

  1. Menentukan intervensi penambahan O2.

 

  1. Memaksimalkan sediaan O2 untuk pertukaran gas.

 

  1. Diagnosa :  Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan mencerna makanan, kelelahan

Kriteria hasil :

  • Berat badan meningkat
  • Turgor kulit baik
  • Pergerakan aktif
  • Penambahan BB 1 kg/bulan
  • Tanda vital stabil ( N : 140-160x/i, P : 30-40x/I, S : 36-37,2oC).

 

Intervensi Rasional
Mandiri

  1. Kaji masukan, kebiasaan diet, derajat kesulitan makan.
  2. Auskultasi bunyi usus.

 

 

  1. timbang BB sesuai indikasi.

 

Kolaborasi

  1. Konsultasi pada ahli diet

 

 

  1. Beri tambahan O2

 

 

 

  1. Pasien distress pernapasan sering anoreksia karena dispnea dan obat.
  2. Penurunan BU menunjukkan penurunan motalitas gaster karena pembatasan masukan cairan.
  3. Menentukan kebutuhan kalori, menyusun terapi untuk BB.

 

  1. Metode makanan dan kebutuhan kalori didasarkan pada kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal.
  2. menurunkan dispnea dan meningkatkan energi untuk meningkatkan masukan.

 

 

  1. Diagnosa Keperawatan: Pertumbuhan dan perkembangan, perubahan, risiko tinggi terhadap pengasingan dari orang terdekat, ketidakadekuatan perawatan,respon pengasuh tidak konsisten/multiple, kurang lingkungan dan stimulasi, efek-efek kondisi / ketidakmampuan kronis.

INTERVENSI

Intervensi Rasional
  1. Tentukan status individu dengan menggunakan Denver Development atau alat skrining serupa.

 

  1. Identifikasi hambatan perkembangan dan antisipasi kerangka waktu dalam pencapaian.
  2. Diskusikan persepsi pemberi asuhan tentang kemampuan bayi dan rencana untuk pertumbuhan.

 

 

 

  1. Observasi interaksi bayi-orang tua.

 

 

 

 

 

 

  1. Anjurkan pengungkapan perasaan oleh orang tua /anggota keluarga.

 

 

 

 

 

 

  1. Hindari melawan penyangkalan, yang mungkin sangat kuat bila bayi asimptomatik. Konsul tanpa menggurui, memberikan informasi tanpa mengatur, dan mendukung serta memberikan harapan tanpa membuat janji palsu.
  2. Anjurkan / dukung upaya keluarga untuk perawatan bayi.

 

  1. Diskusikan cara memberikan situasi normal ( mis menggunakan waktu di luar rumah, menggunakan system pendukung secara efektif)

 

KOLABORASI

  1. Koordinasikan konferensi tim multidisiplin untuk melibatkan dokter anak, perawat primer, pekerja social, dukungan nutrisi, psikologis atau psikiatris, terapis fisik/okupasi,dan terapi wicara.

10.  Tekankan pentingnya sering dilakukan skrining dan evaluasi formal oleh spesialis perkembangan.

  1. Memberikan data dasar untuk memperhatikan kemajuan / perubahan masa datang dan mengidentifikasi kebutuhan terapi.
  2. Menguatkan keyakinan bahwa bayi dapat berkembang dengan dukungan dan intervensi yang tepat.
  3. Peningkatan penyakit, perawatan di rumah sakit yang lama/berulang, pengabaian/perlindungan berlebihan oleh pemberi asuhan dapat membatasi stimulus sensori/ gerakan dan motivasi.
  4. Kontak mata dan kedekatan bayi meningkatkan respon orang dewasa. Efek ibu pengguna obat, adanya penyakit, atau perlambatan perkembangan dapat mencegah atau membatasi interaksi bayi, merusak ikatan.
  5. Seringkali, perasaan bersalah dan kecewa dapat diekspresikan sebagai marah,menyangkal,atau defensive berkenaan dengan diagnosis. Kesadaran terhadap perasaan ini memberikan kesempatan untuk menjalaninya dan mengembangkan hubungan positif dengan bayi.
  6. Orang tua perlu melanjutkan kecepatan mereka sendiri. Memberikan informasi, mendengar dengan aktif, dan menerima seseorang dengan cara tidak menghakimi meningkatkan progresi dan resolusi lebih positif.
  7. Interaksi seseorang bahkan setelah periode terbebas,meningkatkan proses ikatan.
  8. Meningkatkan rasa control dan memberikan dorongan untuk menikmati kemungkinan saat ini dan masa datang.

 

 

  1. Perlu untuk membahas isu-isu kompleks dan memaksimalkan potensi bayi karena semua area saling berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan.

 

10.  Mengidentifikasi pelambatan perkembangan dan keefektifan terapi (mis: program intervensi awal [EIP]).

 

 

 

 

 

 


 

WOC SINDROM GAWAT NAPAS NEONATUS
Bayi premature Peny. Membran hialin Pengembangan paru
berlebihan
Maturitas paru
Alveolus pecah
Def. surfaktan
Robekan pd dinding mediastinum
Kemampuan paru mpertahankan stabilitas
Terganggu
Kolaps alveolar dan paru
Kompensasi tek intratoraks berkurang,
inspirasi kuat-kuat
Ventilasi terganggu
SGN
PO2 , PCO2
Ggn fungsi O2-CO2
Pirau (Shunt) Retensi CO2
Penurunan O2 ke jaringan
Alkalosis respiratori
Jantung Otak
Kompensasi Jantung Pe  kesadaran Mules dan kejang Hiperpepneu
Bradikardi Pe reflek batuk
kerja silia Lemah, tdk mampu mencerna
Kardiomegapati
Pesekret di sal nafass Makanan dan reflek isap turun
O2 jar turun Kerusakan endotel kapiler Obstruksi sal nafas MK : Perubahan Nutrisi Kurang
epitel duktus
dari Tubuh
Transudasi dlm paru MK: Bersihan Jalan
Metabolisme anaerob
Nafas Tidak Efektif
Fibrin dan jar.nekrotik
As. Laktat HCO3 turun
menumpuk
Sesak napas
Asidosis respiratorik Asidosis metabolik
Kompensasi tubuh
hiperventilasi
Sesak nafas MK : Ggn. Pertukaran gas
MK :P ola napas tak efektif Pemasangan alat bantu nafas Hospitalisasi pada anak
Perlukaan MK : Risiko perubahan peran ortu
MK : Resiko injury


 

HIPERBILIRUBINEMIA

 

 

 

  1. A. KONSEP DASAR
  2. I. DEFENISI :

 

Hiperbilirubinemia adalah keadaan meningginya kadar bilirubin didalam jaringan ekstravaskuler sehingga kulit, konjungtiva, mukosa dan alat tubuh lainnya berwarna kuning. ( Ngastiyah, Perawatan Anak Sakit, p 197 )

 

  1. II. ETIOLOGI :

 

Secara garis besar etiologi ikterus neonatorum dapat dibagi :

 

  1. Produksi yang berlebihan

 

Hal ini melebihi kemampuan bayi mengeluarkannya , misalnya pada hemolisis yang meningkat pada inkomptabilitas darah Rh, ABO, golongan darah lain, defisiensi enzim G–6-PD, piruvat kinase, perdarahan tertutup, dan sepsis.

 

  1. Gangguan dalam proses ‘ uptake’ dan konjugasi hepar

 

Disebabkan oleh imaturitas hepar, kurangnya substrat untuk konjugasi bilirubin, gangguan fungsi hepar, akibat asidosis, hipoksia dan infeksi atau tidak terdapatnya enzim glukoronil transferase, defisiensi protein Y dalam hepar yang berperanan penting dalam ‘uptake’ bilirubin ke hepar.

 

  1. Gangguan Transportasi

 

Bilirubin dalam darah terikat pada albumin kemudian diangkut ke hepar. Ikatan bilirubin dengan albumin ini dapat dipengaruhi oleh obat misalnya salisilat, sulfafurazole. Defisiensi albumin menyebabkan lebih banyak terdapatnya bilirubin indirek yang bebas dalam darah yang mudah melekat ke sel otak.

 

  1. Gangguan Dalam Eksresi

 

Gangguan ini dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar atau di luar hepar. Kelainan di luar hepar biasanya disebabkan oleh kelainan bawaan. Obstruksi dalam hepar biasanya akibat infeksi atau kerusakan hepar oleh penyebab lain. ( Ilmu Kesehatan Anak, Buku kuliah 3, FKUI, 1985 )

 

 

 

III.        KLASIFIKASI IKTERUS

 

  1. Ikterus Fisiologi

 

  • Timbul pada hari ke 2 atau ke 3, tampak jelas pada hari ke 5-6 dan menghilang pada hari ke 10.
  • Bayi tampak biasa, minum baik, berat badan naik biasa
  • Kadar bilirubin serum pada bayi cukup bulan tidak lebih dari 12 mg %, pada BBLR 10 mg %, dan akan hilang pada hari ke 14.
  • Penyebab ikterus fisiologis diantaranya karena kekurangan protein Y dan Z, enzim Glukoronyl transferase yang belum cukup jumlahnya.

 

  1. Ikterus Patologis

 

  • Ikterus timbul dalam 24 jam pertama kehidupan, serum bilirubin total > 12 mg %
  • Peningkatan kadar bilirubin 5 mg % atau lebih dalam 24 jam
  • Konsentrasi bilirubin serum melebihi 10 mg % pada BBLR dan 12,5 mg % pada bayi cukup bulan.
  • Ikterus yang disertai proses hemolisis ( inkomptabilitas darah, defisiensi enzim G-6-PD, dan sepsis )
  • Bilirubin direk lebih dari 1 mg % atau kenaikan bilirubin serum 1 mg % /dl/jam atau lebih 5 mg/dl/hari
  • Ikterus menetap sesudah bayi umur 10 hari ( bayi cukup bulan ) dan lebih dari 14 hari pada BBLR

 

 

 

Berikut adalah beberapa keadaan yang menimbulkan ikterus patologis :

 

  1. penyakit hemolitik, isoantibodi karena ketidakcocokan golongan darah ibu dan anak seperti Rhesus antagonis, ABO, dsb.
  2. kelainan dalam se darah merah seperti pada defisiensi G-6-PD
  3. hemolisis, hematoma, polisitemia, perdarahan karena trauma lahir.
  4. infeksi : septisemia, meningitis, infeksi saluran kemih, penyakit karena toksoplasmosis, sifilis, rubela, hepatitis
  5. kelainan metabolik, hipoglikemia, galaktosemia
  6. obat2an yang menggantikan ikatan bilirubin dengan albumin seperti : sulfonamid, salisilat , sodium benzoat, gentamisin.
  7. Pirau enteropatik yang meninggi, obstruksi usus letak tinggi, penyakit hirschsprung, stenosis pilorik, mekonium ileus, dsb.

 

(Ngastiyah, Perawatan Anak Sakit, p 198)

 

IV.            PATOFISIOLOGI

 

Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan:

 

  1. terdapatnya penambahan beban bilirubin pada sel hepar yang terlalu berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran eritrosit, polisitemia, memendeknya umur eritrosit janin/bayi, meningkatnya bilirubin dari sumber lain, atau terdapatnya peningkatan sirkulasi enterohepatik
  2. gangguan ambilan bilirubin plasma. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein-Y berkurang atau pada keadan protein-Y dan protein-Z terikat oleh anion lain, misalny pada bayi anoksia/hipoksia

 

Pada derajat tertentu, bilirubin ini akan bersifat toksik (terutama bilirubin indirek yang larut dalam lemak) dan merusak jaringan tubuh. Sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologik pada sel otak apabila bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak.

 

V.               MANIFESTASI KLINIS

 

  • Tampak ikterus : sclera, kuku, kulit dan membran mukosa
  • Muntah, anoreksia, fatigue, warna urine gelap, warna tinja pucat (Suriadi, Asuhan Keperawatan Pada Anak, Edisi 1)
  • Letargi ( lemas )
  • Kejang
  • Tak mau menghisap
  • Tonus otot meninggi, leher kaku, akhirnya opistotonus
  • Bila bayi hidup pada umur lebih lanjut dapat terjadi spasme otot, opistotonus, kejang.
  • Dapat tuli, gangguan bicara dan retardasi mental.

 

(Ngastiyah, Perawatan anak sakit, p 199)

 

VI.              KOMPLIKASI

 

  • Bilirubin Encephalopathy ( komplikasi serius )
  • Kernikterus

 

( Suriadi, Asuhan Keperawatan Anak Sakit, Edisi 1

 

 

 

  1. VII. PENATALAKSANAAN MEDIS
    1. Mempercepat proses konjugasi, misalnya dengan pemberian fenobarbital. Pengobatan dengan cara ini tidak begitu efektif dan membutuhkan waktu 48 jam baru terjadi penurunan bilirubin yang berarti. Mungkin lebih bermanfaat bila diberikan pada ibu kira kira 2 hari sebelum melahirkan.
    2. Memberikan substrat yang kurang untuk transportasi atau konjugasi. Contohnya : pemberian albumin untuk mengikat bilirubin yang bebas. Albumin dapat diganti dengan plasma dosis 15 – 20 ml/kgbb. Pemebrian glukosa perlu untuk kojugasi hepar sebagai sumber energi.
    3. Melakukan dekompensasi bilirubin dengan fototerapi

 

Terapi sinar diberikan jika kadar bilirubin darah indirek lebih dari 10 mg %. Terapi sinar menimbulkan dekomposisi bilirubin dari suatu senyawa tetrapirol yang sulit larut dalam air menjadi senyawa dipirol yang mudah larut dalam air dan dikeluarkan melalui urin, tinja, sehingga kadr bilirubin menurun. Selain itu pada terapi sinar ditemukan pula peninggian konsentrasi bilirubin indirek dalam cairan empedu duodenum dan menyebabkan bertambahnya pengeluaran cairan empedu kedalam usus sehingga peristaltik usus meningkat dan bilirubin akan keluar bersama feses.

 

Pelaksanaan Terapi Sinar :

 

  1. Baringkan bayi telanjang, hanya genitalia yang ditutup ( maksmal 500 jam ) agar sinar dapat merata ke seluruh tubuh.
  2. Kedua mata ditutup dengan penutup yang tidak tembus cahaya. Dapat dengan kain kasa yang dilipat lipat dan dibalut. Sebelumnya katupkan dahulu kelopak matanya. ( untuk mencegah kerusakan retina )
  3. Posisi bayi sebaiknya diubah ubah, telentang, tengkurap, setiap 6 jam  bila mungkin, agar sinar merata.
  4. Pertahankan suhu bayi agar selalu 36,5 37 C, dam observasi suhu tiap 4- 6 jam sekali. Jika terjadi kenaikan suhu matikan sebentar lampunya dan bayi diberikan banyak minum. Setelah 1 jam kontrol kembali suhunya. Jika tetap hubungi dokter.
  5. Perhatikan asupan cairan agar tidak terjadi dehidrasi dan meningkatkan suhu tubuh bayi.
  6. Pada waktu memberi bayi minum, dikeluarkan, dipangku, penutup mata dibuka. Perhatikan apakah terjadi iritasi atau tidak.
  7. Kadar bilirubin diperiksa setiap 8 jam setelah pemberian terapi 24 jam
  8. Bila kadar bilirubin telah turun menjadi 7,5 mg % atau kurang, terapi dihentikan walaupun belum 100 jam.
  9. Jika setelah terapi selama 100 jam bilirubin tetap tinggi / kadar bilirubin dalam serum terus naik, coba lihat kembali apakah lampu belum melebihi 500 jam digunakan. Selanjutnya hubungi dokter. Mungkin perlu transfusi tukar.

 

10.Pada kasus ikterus karena hemolisis, kadar Hb diperiksa tiap hari.

 

 

 

Komplikasi terapi sinar :

 

  1. Terjadi dehidrasi karena pengaruh sinar lampu dan mengakibatkan peningkatan insesible water loss.
  2. Frekuensi defekasi meningkat sebagai akibat meningkatnya bilirubin indirek dalam cairan empedu dan meningkatkan peristaltik usus.
  3. Timbul kelainan kulit sementara pada daerah yang terkena sinar ( berupa kulit kemerahan ) tetapi akan hilang jika terapi selesai.
  4. Gangguan retina jika mata tidak ditutup.
  5. Kenaikan suhu akibat sinar lampu. Jika hal ini terjadi sebagian  sinar lampu dimatikan terapi diteruskan. Jika suhu naik terus lampu semua dimatikan sementara, bayi dikompres dingin, dan berikan ektra minum.
  6. Komplikasi pada gonad yang menurut dugaan dapat menimbulkan kelainan ( kemandulan ) tetaapi belum ada bukti.
  7. Transfusi tukar.

 

Indikasi untuk melakukan transfusi tukar adalah :

 

  1. kadar bilirubin indirek lebih dari 20 mg %
  2. kenaikan kadar bilirubin indirek cepat, yaitu 0,3 – 1 mg % / jam
  3. anemia berat pada neonatus dengan gejala gagal jantung
  4. bayi dengan kadar hemoglobin tali pusat kurang 14 mg % dan uji coomb’s positif.

 

Tujuan transfusi tukar adalah mengganti eritrosit yang dapat menjadi hemolisis, membuang natibodi yang menyebabkan hemolisis, menurunkan kadar bilirubin indirek, dan memperbaiki anemia.

 

 

 

B. ASUHAN KEPERAWATAN

 

 

 

  1. 1. PENGKAJIAN

 

  • Pemeriksaan fisik
  • Inspeksi warna : sclera, konjungtiva, membran mukosa mulut, kulit, urine, dan tinja.
  • Pemeriksaan bilirubin menunjukkan adanya peningkatan
  • Tanyakan berapa lama jaundice muncul dan sejak kapan
  • Apakah bayi ada demam
  • Bagaimana kebutuhan pola minum
  • Riwayat keluarga
  • Apakah anak sudah mendapat imunisasi hepatitis B

 

  1. 2. DIAGNOSA KEPERAWATAN :

 

a.risiko injury internal b.d peningkatan serum bilirubin sekunder dari pemecahan sel darah merah dan gangguan eksresi bilirubin

 

  1. risiko kurangnya volume cairan b.d hilangnya air ( insensible water loss ) tanpa disadari sekunder dari fototerapi.

 

c.risiko gangguan integritas kulit b.d fototerapi

 

  1. kecemasan orantua b.d dengan kondisi bayi dan gangguan bonding

 

e.kurangnya pengetahuan b.d kurangnya pengalaman orangtua

 

  1. f.     risiko injury pada mata b.d fototerapi

 

 

 

3.            PERENCANAAN

 

  1. Bayi terbebas dari injury yang ditandai dengan bilirubin serum menurun, tidak ada jaundice, refleks moro normal, tidak terdapat sepsis, refleks hisap dan menelan baik.
  2. bayi tidak menunjukkan tanda tanda dehidrasi yang ditandai dengan urine output ( pengeluaran urine ) kurang dari 1-3 ml/kg/jam, membran mukosa normal, ubun ubun tidak cekung, temperatur dalam batas normal.
  3. bayi tidak menunjukkan adanya iritasi pada kulit yang dtndai dengan tidak terdapat rash, dan tidak ada ruam macular eritematosa.
  4. orangtua tidak nampak cemas yang ditandai dengan orangtua mengekspresikan perasaan dan perhatian pada bayi dan aktif dalam partisipasi perawatan bayi.
  5. orangtua memahami kondisi bayi dan alasan pengobatan dan berpartisipasi dalam perawatan bayi : dalam peberian minum dan mengganti popok.
  6. bayi tidak mengalami injury pada mata yang ditandai dengan tidak ada konjungtivitis.
  7. 4. IMPLEMENTASI
    1. Mencegah adanya injury ( internal )

 

  • ·Kaji hiperbilirubin tiap 1- 4 jam dan catat
  • ·Berikan fototerapi sesuai program
  • ·Monitor kadar bilirubin 4 –8 jam sesuai program
  • ·Antsipasi kebutuhan transfusi tukar
  • ·Monitor Hb dan Ht

 

  1. Mencegah terjadinya kurangnya volume cairan

 

  • ·Pertahankan intake cairan
  • ·Berikan minum sesuai jadwal
  • ·Monitor intake dan output
  • ·Berikan terapi infus sesuai program bila ada indikasi
  • ·Kaji dehidrasi, membran mukosa, ubun2, turgor kulit, mata
  • ·Monitor temperatur tiap 2 jam

 

  1. Mencegah gangguan integritas Kulit

 

  • ·Inspeksi kulit tiap 4 jam
  • ·Gunakan sabun bayi
  • ·Merubah posisi bayi dengan sering
  • ·Gunakan pelindung daerah genital
  • ·Gunakan pengalas lembut

 

  1. Mengurangi rasa cemas pada orangtua

 

  • Perahankan kontak mata orangtua dan bayi
  • Jelaskan kondisi bayi, perawatan dan pengobatannya
  • Ajarkan orangtua untuk mengekspresikan perasaanya, dengarkan rasa takutnya, dan perhatian orantua

 

 

 

  1. Orangtua memahami kondisi bayi dan mau berpartisipasi dalam perawatan

 

  • Ajak orangtua untuk diskusi dengan menjelaskan tentang fisiologis, alasan perawatAn, pengobatan
  • Libatkan dan ajarkan orangtua dalam perawatan bayi
  • Jelaskan komplikasi dengan mengenal tanda dan gejala : letargi, kekauan otot, menangis terus, kejang, tidak mau makan.

 

  1. Mencegah injury pada mata

 

  • Gunakan pelindung mata pada saat fototerapi
  • Pastikan mata tertutup, hindarkan penekanan pada mata yang berlebihan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

 

PENUTUP

 

 

 

  1. A. KESIMPULAN

 

 

 

Bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) adalah seluruh bayi dengan berat badan saat lahir kurang dari 2500 gram. BBLR dapat diklasifikasikan menjadi: Prematuritas murni dan dismatur. Penatalaksanaan BBLR: (1) Pastikan bahwa bayi terjaga tetap hangat, bungkus bayi dengan kain lunak, kering, selimut, pakai topi untuk menghindari kehilangan panas; (2) Awasi frekuensi pernapsan terutama dalam 24 jam pertama, guna mengetahui syndrome aspirasi mekonium/sindrom gangguan pernapasan idiopatik; (3) Suhu diawasi jangan sampai kediniginan karena BBLR mudah hipotermi akibat dari luas permukaan tubuh bayi realitf besar dari lemak subkutan. BMR dari BBLR rendah saat lahir dan meningkat cepat selama 10 hari pertama kehidupan. Oleh karena itu penting untuk mempertahankan suhu tubuh dengan memberikan pakaian pada bayi. Suhu ruangan yang terlalu tinggi atau terlalu rendah tidak sesuai dengan seharusnya dapat meningkatkan kematian bayi BBLR; (4) Dorong ibu menyusui dalam 1 jam sekali; (5) Jika bayi haus, beri makanan dini berguna untuk mencegah hipoglekimia; (6) Jika bayi sinaosis atau sukar bernafas (frekuensi < 30 atau 60/menit)). Tarikan dinding dada ke dalam atau merintih beri O2 melalui kateter hidung; (7) Cegah infeksi oleh karena rentan oleh pemindahan IgB dari ibu ke janin terganggu. Bayi BBLR ditempatkan di ruang khusus, harus ada pengaturan izin masuk, mencucui tangan sesudah dan sebelum menyentuh bayi serta gunakan gound dan masker; (8) Perika kadar gula darah tiap 8-12 jam.

 

 

 

Sindrom Gawat Nafas Neonatus (SGNN) atau Respiratory Distress Syndrom (RDS) merupakan kumpulan gejala yang terdiri dari dispnea atau hiperpnea dengan frekuensi pernapasan lebih dari 60x/i ; sianosis, merintih, waktu ekspansi dan restraksi di daerah epigastrium, suprastenal, interkosial pada saat inspirasi. Bila didengar stetoskop akan terdengar penurunan masukan udara kedalam paru.  Etiologi SGN: Defisiensi Surfaktan, Tidak Lancarnya Absorbsi Cairan Paru, Aspirasi Mekonium, Pneumonia Bakteri atau Virus, Sepsis, Obstruksi Mekanis, Hipotermia.

 

 

 

Hiperbilirubinemia adalah peningkatan kadar bilirubin serum dihubungkan dengan hemolisis sel darah merah dan reabsorbsi lanjut dari bilirubin yang tidak terkonjugasi dari usus kecil ( Marilyn, 2001). Secara garis besar etiologi ikterus neonaturum dapat dibagi: (1) Produksi bilirubin meningkat; (2) Gangguan proses uptake dan konjugasi hepar; (3) Gangguan transportasi; (4) Gangguan ekskresi. Penatalaksanaan medis pada prinsipnya adalah untuk: (1) Mempercepat proses konjugasi; (2) Memberikan substrat yang kurang untuk transportasi atau konjugasi; (3) Melakukan dekompensasi bilirubin dengan fototerapi; (4) Transfusi Tukar.

 

 

 

  1. B. SARAN

 

  1. Dibutuhkan perbanyakan literature dalam penulisan makalah.
  2. Bagi pustakawan yang lain, semoga makalah ini dapat dijadikan referensi dan masukan untuk memaksimalkan fungsi perpustakaan dilembaga masing-masing.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

FKUI .1985. Ilmu Kesehatan Anak Jilid I. Jakarta: EGC

 

Ladewig,patricia,dkk.2006.Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu Bayi Baru Lahir Edisi 5.Jakarta: EGC

 

Manuaba, Ida Bagus Gde. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC

 

Mansjoer, A dkk. 2002. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : FKUI

 

Ngatisyah.2005.Perawatan Anak Sakit Edisi 2.Jakarta: EGC

 

Pelatihan PONED Komponen Neonatal 28-30 Oktober 2004)

 

Surasmi,Asrining,dkk.2003.Perawatan Bayi Resiko Tinggi.Jakarta: EGC

 

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/

 

http://kumpulan-asuhan-keperawatan.blogspot.com
http://download-my-ebook.blogspot.com

 

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC

 

Buku Kuliah 3 Ilmu kesehatan Anak. 1985. FKUI

 

Suriadi. 2001. Asuhan Keperawatan Anak  edisi 1

 

Markum, All. 1999. Ilmu Kesehatan Anak jilid 1. Jakarta: EGC

Incoming search terms: